Dokter Kandungan Surabaya | Dr. Greg Agung, SpOG

Layanan Kehamilan & Kesehatan Wanita Profesional

  • Home
  • Layanan
    • Konsultasi & Kontrasepsi
    • PAP Smear
    • Pemeriksaan Ginekologik
    • Pemeriksaan Kehamilan
    • Screening USG 4D
  • Jadwal Dokter
  • Artikel
    • Kebidanan & Kandungan
    • ObsGyn Update
  • Tentang Kami
    • Fasilitas
  • Login Pasien
  • Daftar Antrian
  • 22 May 2026
You are here: Home / Archives for Dr. Gregorius Agung, SpOG

Mengonsumsi Susu Selama Kehamilan Menurunkan Risiko Sklerosis Multipel Pada Bayi

2 August 2010 by Dr. Gregorius Agung, SpOG

Tim peneliti Harvard School of Public Health, Boston, dibawah pimpinan Dr. Fariba Mirzaei, dalam studi pendahuluannya melaporkan bahwa mengonsumsi susu selama kehamilan dapat menurunkan risiko bayi menderita sklerosis multipel.

Studi ini dilakukan pada 35.794 perawat yang ibunya mengisi kuesioner pada tahun 2001 mengenai pengalaman mereka dan dietnya selama kehamilan. Dari total perawat yang diteliti, 199 perempuan menderita sklerosis multipel selama periode pemantauan 16 tahun. Para peneliti menemukan bahwa risiko sklerosis multipel lebih rendah pada perempuan yang ibunya mengonsumsi susu atau mendapat diet tinggi vitamin D selama kehamilan.

Risiko sklerosis multipel pada bayi yang ibunya mengonsumsi 4 gelas susu sehari adalah 56% lebih rendah dibanding ibu yang hanya mengonsumsi 3 gelas atau kurang per bulan. Risiko anak dari ibu yang berada dalam kelompok

http://marshillonline.com/wp-content/cache/shop/cialis-generic-cheap.php

20% teratas dalam hal konsumsi vitamin D selama hamil adalah 45% lebih rendah dibanding ibu dalam kelompok 20% asupan vitamin D terendah selama kehamilan.

Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa vitamin D mempunyai efek terhadap sklerosis multipel, dan studi ini menunjukkan bahwa efek ini tampaknya sudah mulai terjadi di kandungan. Susu fortifikasi, jenis ikan tertentu seperti salmon, serta paparan sinar matahari merupakan sumber vitamin D terpenting.

(62nd Annual Meeting of the American Academy of Neurology; April 10 – 17, 2010; Toronto, BC, Canada).

Filed Under: ObsGyn Update

Hubungan Suplementasi Asam Folat Dengan Penurunan Persalinan Prematur

2 August 2010 by Dr. Gregorius Agung, SpOG

Studi terbaru yang dilakukan oleh Dr. A.E. Czeizel dkk. dari Foundation for the Community Control of Hereditary Diseases, Budapest, Hongaria, menunjukkan bahwa hanya ada sedikit peningkatan pada rata-rata berat badan bayi saat dilahirkan, setelah pemberian asam folat dosis tinggi selama kehamilan, namun akan didapat penurunan bermakna pada jumlah persalinan prematur, sehingga bersifat menguntungkan bagi kesehatan masyarakat.

Suplementasi asam folat atau multivitamin pada periode perikonsepsi dianjurkan pada perempuan hamil, guna mencegah timbulnya neural-tube defect. Pertanyaan yang timbul adalah: apakah ada gunanya melanjutkan pemberian suplemen ini setelah kehamilan trimester pertama? Untuk itu, para peneliti menyelidiki apakah suplemen vitamin pada trimester kedua dan terutama trimester ketiga dapat merangsang pertumbuhan fetal dan/atau mengurangi persalinan prematur.

Dalam studi ini digunakan data HCCSCA (Hungarian Case-Control Surveillance of Congenital Abnormalities) tahun 1980 – 1996, yang membandingkan perempuan hamil primipara dan melahirkan bayi tunggal, yang mendapat suplemen vitamin selama kehamilan. Dari data tersebut ditemukan 6.293 perempuan primipara yang hanya mendapat asam folat saja, 169 perempuan mendapat multivitamin, dan 311 perempuan mendapat asam folat + multivitamin. Data ini dibandingkan dengan *7.319 perempuan hamil yang tidak mendapat asam folat ataupun multivitamin yang mengandung asam folat.

Ditemukan bahwa usia kehamilan akan bertambah 0,3 minggu dan berat badan bayi saat lahir 37 g lebih tinggi pada kelompok yang hanya mendapat asam folat, dibanding kelompok plasebo (39,2 minggu, 3.216 g). Jumlah persalinan prematur secara bermakna juga lebih rendah dibanding kelompok plasebo, yaitu 76% dibanding 11,8%, tetapi tidak ada perbedaan bermakna pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Pemberian asam folat tunggal pada trimester ketiga menyebabkan pemanjangan usia kehamilan sebesar 0,6 minggu dan penurunan lebih bermakna pada jumlah persalinan prematur (4,8%).

(European Journal of Otoieiriu & Gyncrelegy and Reproductive Biology 2010; 148:135 -140).

Filed Under: ObsGyn Update

Haruskah Gigi Dicabut Atau Ditambal Di Saat Hamil?

21 July 2010 by Dr. Gregorius Agung, SpOG

Gigi saya berlubang Dok, tapi selama ini memang tidak pernah sakit. Apakah aman-aman saja bila saya menambal atau bahkan mencabut gigi saya di saat sedang hamil?

Apakah proses menambalan dan pencabutan gigi akan berpengaruh kepada kandungan/ janin saya? Sebaliknya, jika gigi saya yang berlubang ini dibiarkan saja, dan baru saya tambal atau dicabut setelah saya melahirkan, apakah tidak akan berdampak kepada janin saya, Dok? Mohon jawabannya, terima kasih.

Melani – Yogyakarta

Ny. Melani di Yogyakarta,

Masalah gigi memang sering membingungkan kita. Barangnya kecil dan tersembunyi, tetapi begitu ada gangguan, akibatnya membuat sakit kepala. Gigi secara anatomi, letaknya jauh dari kandungan. Seperti yang telah saya katakan, bila timbul gangguan, maka akibatnya bisa fatal.

Gigi yang bermasalah pada wanita hamil adalah gigi yang tidak utuh dan gigi yang berlubang, yang dapat merangsang syaraf di daerah tersebut, menimbulkan rasa nyeri, serta bengkak di daerah gusi.

Masalah yang timbul bila dari gigi tersebut timbul infeksi yaitu dapat mengakibatkan kontraksi. Bila terjadi kontraksi, maka wanita hamil akan merasa tegang perutnya. Bila terjadi pada kehamilan trimester pertama, di mana belum ada plasenta yang berfungsi baik, maka kontraksi tersebut akan menimbulkan keguguran. Sedangkan untuk kehamilan yang lebih besar, maka kontraksi akan merangsang timbulnya perdarahan.

Untuk memperbaiki masalah di atas, maka sebaiknya bila kehamilan ini berencana, penambalan dan pencabutan dilakukan saat sebelum kehamilan terjadi. Bila kehamilan ini tidak direncanakan, ternyata ada gigi yang bermasalah, maka gigi berlubang tersebut harus segera diperbaiki. Mengenai tindakan dicabut atau ditambal, tergantung pada kerusakan yang ada.

Bila masih bisa dipertahankan, maka anjurannya adalah gigi tersebut ditambal. Masalah penambalan gigi ini yang harus hati hati, jangan memakai bahan amalgam atau menggunakan laser. Biasanya, dokter gigi mengetahui hal ini.

Sedangkan bila sudah tidak dapat dipertahankan lagi atau kerusakan gigi sudah demikian lanjut, maka tidak apa di cabut, disertai dengan pemberian antibiotika yang aman untuk mencegah infeksi, perawatan rongga mulut yang baik, makanan yang tidak berserat, dan bisa ditambahkan obat antinyeri dan antikontraksi.

Perawatan setelah pencabutan memang akan memakan waktu agak lama. Tetapi hal ini akan lebih baik daripada membiarkan gigi berlubang tadi yang dapat merangsang infeksi berkelanjutan.

Filed Under: Konsultasi Online

Mengetahui Usia Kehamilan

21 July 2010 by Dr. Gregorius Agung, SpOG

Semua  wanita hamil pasti ingin mengetahui berapa usia kehamilannya. Dengan mengetahui usia kehamilan bisa dihitung kapan bayi Anda bakal lahir. Bayi diharapkan lahir cukup bulan, yakni pada usia kehamilan

24cialisitalia.com

36 minggu ditambah 7 hari. Berikut ini cara menentukan usia kehamilan:

1. Hari pertama haid terakhir (HPHT)

Caranya dengan rumus Naegle:

(hari+7), (bulan-3), (tahun+1)

Misalnya, jika HPHT Anda 9 Juli 2009, maka perkiraan tanggal persalinan adalah 16 April 2010. Dengan catatan:

Rumus ini cocok jika siklus haid Anda teratur, yakni 28-30 hari. Kalau siklus Anda kurang atau lebih, maka harus dikoreksi. Untuk siklus haid pendek, perkiraan hari persalinan akan dikurangi, sedangkan siklus haid panjang harus ditambah

Kelemahan cara ini adalah banyak ibu hamil yang lupa kapan HPHT-nya. Tak heran jika sekitar 5% ibu hamil mengalami persalinan lebih dari waktu yang diperkirakan. Itu sebabanya, Anda disarankan memeriksakan diri ketika haid terlambat sekurang-kurangnya satu bulan, sehingga HPHT diketahui lebih akurat.

2. Ultarsonografi (USG). Dokter menentukan usia kehamilan dan memperkirakan waktu kelahiran bayi berdasarkan “gambar” janin yang muncul pada layer monitor.

Tingkat akurasi USG 4D mencapai 95%, jika digunakan pada trimeseter pertama dan menggunakan USG transvaginal. Pemeriksaan USG transvaginal adalah pilihan terbaik bagi ibu yang gemuk, rahimnya “menukik” ke belakangan atau kandung kemihnya tak cukup terisi.

Filed Under: Kebidanan & Kandungan

Vagina Pun Bisa Varises

21 July 2010 by Dr. Gregorius Agung, SpOG

Yth.Dr. Greg, SpOG,

Selain perubahan bentuk tubuh, apakah kehamilan juga bisa menimbulkan varises pada vagina. Apa dampaknya dan bagaimana pula cara mengatasinya?

Terima Kasih

Selain perubahan bentuk tubuh, selama hamil seorang wanita juga bisa mengalami varises pada vaginanya. Umumnya varises vagina yang terjadi jarang menimbulkan keluhan. Sehingga seringkali ibu hamil tidak menyadari jika vaginanya mengalami varises.
Padahal varises vagina termasuk gannguan yang sering terjadi selama kehamilan. Bahkan dari data dinyatakan satu dari tiga wanita hamil mengalami varises vagina ini.

Terjadinya varises atau pelebaran pembuluh darah di vagina dipicu oleh perubahan fisik dan psikis yang terjadi selama masa kehamilan. Di antaranya adalah :

1. Pembesaran Rahim
Ketika hamil, rahim mengalami pembesaran. Pembesaran itu akan menekan pembuluh-pembuluh darah besar yang terletak di depan dan di samping tulang pinggang. Penekanan yang terjadi membuat kurang lancarnya aliran darah dari bagian bawah tubuh yang menuju ke jantung. Akibatnya terjadilah bendungan pada pembuluh-pembuluh balik di tubuh bagian bawah, seperti tungkai, vagina dan anus. Bendungan yang terjadi membuat pembuluh darah balik di daerah tersebut melebar dan terbentuklah varises.

2. Perubahan Hormon
Hormon steroid dan progesteron yang kadarnya meningkat selama kehamilan, bisa melemahkan otot polos dinding pembuluh darah. Karena melemah, otot dinding pembuluh darah balik  vena mudah sekali mengalami pelebaran. atau varises.

3. Kurang gerak
Perubahan bentuk tubuh dan hormonal seringkali membuat ibu malas bergerak. Padahal aktivitas badan yang kurang bisa menyebabkan aliran darah balik vena menuju jantung tidak lancar. Akibatnya darah lebih banyak menumpuk di pembuluh darah balik vena bagian bawah tubuh. Sehingga pada pembuluh darah tersebut mengalami pelebaran yang lama kelamaan bimenimbulkan varises. Hanya saja kehamilan sebagai penyebab varises vagina lebih sering terjadi.

Dampaknya
Meski varises vagina jarang menimbulkan keluhan, bukan berarti boleh diabaikan. Sebab pada kondisi yang parah varises bisa pecah. Biasanya pecahnya varises vagina itu terjadi saat berlangsungnya persalinan. Sebab selama persalinan, pembuluh darah vagina yang mengalami varises tertekan kepala bayi yang keluar. Selain itu pecahnya varises vagina juga bisa akibat pengguntingan vagina untuk memperlebar jalan keluar bayi dari kandungan ibunya.

Walau pun resiko pecahnya varises vagina terbesar terjadi selama proses persalinan. Namun pada masa kehamilan varises ini juga berisiko pecah. Biasanya terjadi pada trimester akhir kehamilan. Sebab pada saat itu ukuran kandungan sudah sangat besar. Sehingga semakin kuat menekan pembuluh darah vena yang telah melebar di sekitar vagina. Akibatnya  sewaktu-waktu pembuluh darah tersebut bisa pecah.

Dampak dari pecahnya varises inilah yang tidak boleh diabaikan. Karena bisa menimbulkan perdarahan hebat yang membuat ibu kehilangan banyak darah. Jka tidak segera ditangani kondisi ini bisa berakhir dengan kematian. Selain itu akibat perdarahan yang terjadi akan memudahkan tubuh ibu  mengalami infeksi.

Penanganan
Bagi ibu hamil yang menderita varises vagina, diupayakan agar varisesnya tidak bertambah besar. Cara yang dilakukan adalah membatasi lama berdiri. Agar pembuluh darah vaginanya yang melebar tidak semakin tertekan kandungannya.
Pada varises vagina yang besar dianjurkan pemakaian karet busa yang ditempatkan pada vagina dan ditutup erat dengan kain pembalut haid. Dapat juga digunakan obat-obatan golongan vasopresor untuk mennyempitkan pembuluh darah yang melebar. Tentu saja pemilihan obat-obatan ini atas petunjuk dokter.

Jika upaya itu tidak berhasil, dan tetap membuat varises vagina pecah. Tidak ada jalan lain menjahitnya. Demikian juga jika pecahnya varises itu terjadi saat proses persalinan. Namun sebelum bayi keluar, dokter akan menghentikan perdarahan untuk sementara dengan cara menekan pembuluh darah varises tersebut selama beberapa saat hingga berhenti. Selanjutnya diusahakan agar bayinya segera keluar. Supaya dokter bisa segera menjahit pembuluh darah tersebut.

Hal yang sama dilakukan dokter jika pecahnya pembuluh darah vagina terjadi saat menggunting daerah vagina untuk melebarkan jalan keluar bayi. Selama proses melahirkan berlangsung, perdarahan yang terjadi cukup ditekan dengan kain kasa. Setelah bayi lahir, pembuluh darah yang pecah harus segera dijahit dengan teliti.

Ada kalanya dokter mempertimbangkan operasi caesar untuk menghindari pecahnya varises. Hal ini dilakukan bila varises vagina yang terjadi cukup banyak dan dikhawatirkan bisa menimbulkan perdarahan hebat.

Pencegahan
Walau pun dari data dinyatakan jika satu dari tiga ibu hamil mengalami  varises vagina. Bukan berarti pelebaran pembuluh darah vena itu tidak bisa dihindari.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan ibu hamil agar terhindar dari varises vagina. Salah satunya dengan melakukan senam hamil sejak usia kehamilan dini. Senam ini bisa memperbaiki kekuatan otot secara menyeluruh, termasuk otot polos pembuluh darah. Di samping itu senam hamil yang rutin dilakukan bisa memperbaiki sirkulasi darah. Sehingga darah tidak menumpuk pada satu tempat pembuluh darah yang bisa menimbulkan varises.

Hal lain yang harus dilakukan adalah tidak mengikuti rasa malas yang merupakan bawaan orang hamil. Sebab rasa malas itu akan membuat ibu hamil enggan beraktivitas. Padahal aktivitas yang kurang selama kehamilan bisa mengurangi kelancaran aliran darah kembali ke jantung hingga akhirnya terbendung di bagian bawah tubuh dan menyebabkan timbulnya varises.

Filed Under: Konsultasi Online

  • « Previous Page
  • 1
  • …
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • Next Page »

Login Pasien


Links

  • RS Husada Utama
  • RS Lombok Dua Dua
  • RSIA Kendangsari MERR
  • RSIA Kendangsari Surabaya

The Doctor

Dr. Gregorius Agung H, SpOG menyelesaikan pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya pada tahun 1992 dan Pendidikan Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di universitas yang sama pada tahun 2002. Read More »

Peta Lokasi

Contact Us

GA Clinic - Dr. Gregorius Agung H, SpOG
Jl. Menur Pumpungan 167 A
Surabaya, 60118 · Indonesia

phone: (031) 5963706
Whatsapp: 0857-0848-6899
email: gregspog@yahoo.com

Copyright © 2026 · Dokter Kandungan Surabaya | Dr. Greg Agung, SpOG